JURNALTODAY.CO, SAMARINDA – Penguatan ketahanan pangan di Kalimantan Timur (Kaltim) membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat adat hingga generasi muda.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar ketahanan pangan yang diinisiasi Pemuda Inspirasi Nusantara berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Mulawarman (Unmul).
Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Prof Masjaya, Unmul pada Jumat (21/8/2026) menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Guru Besar Fakultas Pertanian Unmul, Prof Bernatal Saragih, Wakil Ketua Umum Bidang Pangan Kadin Kaltim Lani Tanujaya, Tokoh Adat Kaltim Hendrik Tandoh, serta Tokoh Pemuda Kaltim Alfonsius Limba.
Prof Bernatal Saragih mengatakan, salah satu persoalan utama ketahanan pangan Kaltim adalah masih tingginya ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Kondisi tersebut juga diperparah dengan adanya pergeseran fungsi lahan pertanian.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat perlindungan terhadap Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) agar lahan sawah tidak terus beralih fungsi menjadi perkebunan maupun penggunaan lainnya.
“Yang menjadi penting adalah menjaga lahan yang sudah ada. Regulasi LP2B di Kalimantan Timur harus benar-benar dilaksanakan, dieksekusi dan diawasi agar tidak terjadi lagi pergeseran atau alih fungsi sawah,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan akademisi juga sangat penting dalam memperkuat sektor pertanian. Kampus dapat berperan melalui riset, inovasi teknologi, pengembangan pasar hingga pendampingan kepada petani dan pemuda tani.
Sementara itu, Lani Tanujaya menegaskan Kadin Kaltim berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan pengusaha dengan petani, antarpengusaha, maupun pemerintah dengan dunia usaha.
Menurutnya, peluang pengembangan sektor pangan semakin terbuka, termasuk dengan adanya pengusaha sektor batu bara yang mulai melirik usaha pangan.
“Kami sangat mendukung kalau ada pengusaha yang ingin beralih ke sektor pangan. Dengan begitu, hasil pertanian seperti jagung yang dibutuhkan industri bisa langsung terserap,” katanya.
Lani menilai kepastian pasar menjadi salah satu persoalan penting bagi petani. Karena itu, keberadaan industri yang mampu menyerap hasil panen harus diperkuat, termasuk melalui dukungan distribusi.
Di sisi lain, Hendrik Tandoh menyoroti pentingnya perlindungan terhadap lahan masyarakat adat. Ia menyebut masyarakat adat memiliki hubungan erat dengan pertanian karena aktivitas bercocok tanam telah dilakukan secara turun-temurun.
Menurutnya, masuknya investasi ke wilayah yang selama ini dimanfaatkan masyarakat adat berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak memperhatikan hak dan keberadaan masyarakat setempat.
“Harapan kami, pemerintah memiliki perhatian khusus dan bisa melihat persoalan ini dari sisi masyarakat adat,” ujarnya.
Sementara Alfonsius Limba mendorong generasi muda untuk terlibat langsung dalam pembangunan sektor pertanian. Ia menilai bertani bukan pekerjaan kolot, melainkan profesi yang semakin berkembang melalui pemanfaatan teknologi.
Ia mencontohkan penggunaan traktor hingga drone yang dapat membantu proses pengolahan lahan, pemupukan dan pengendalian hama.
“Pertanian itu keren dan hebat. Mahasiswa, khususnya Fakultas Pertanian, harus bangga dan siap berkontribusi langsung menjaga ketahanan pangan bangsa,” pungkasnya.(*)
