Terungkap, MBG di YPVDP Beberapa Kali Distop karena Temuan Makanan Bermasalah

Sekitar 30an pelajar dari Vidatra harus mendapatkan penanganan rawat inap usai menyantap MBG, mereka mengeluhkan sesak dan sakit perut.

JURNALTODAY.CO, BONTANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di YPVDP ternyata beberapa kali sempat dihentikan atau ditarik sebelum kasus dugaan keracunan makanan yang kini menimpa pelajar dan guru.

Pengakuan tersebut disampaikan Guru YPVDP, Yeni Astuti. Ia menyebut penghentian distribusi dilakukan ketika pihak sekolah menemukan kondisi makanan yang dinilai tidak layak untuk dibagikan kepada siswa.

“Kalau yang parah begini baru ini. Sisanya itu ya kayak nasi berair langsung tidak didistribusikan, terus roti atau kurma berjamur langsung ditarik,” ungkap Yeni.

Tak hanya kondisi makanan, pihak sekolah juga disebut pernah menemukan benda asing di dalam ompreng makanan yang diterima siswa.
“Ada lalat, rambut, binatang dan lain-lain di ompreng,” katanya.

Menurut Yeni, ketika temuan tersebut terjadi, makanan langsung ditarik atau tidak didistribusikan kepada siswa. Namun, ia menegaskan kejadian terbaru merupakan kasus dengan dampak paling serius dibandingkan persoalan makanan yang pernah ditemukan sebelumnya.

“Kalau yang parah begini baru ini,” ujarnya.
Pengakuan tersebut muncul di tengah masih berlangsungnya penanganan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa pelajar dan guru YPVDP.

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, Yeni menjelaskan tidak seluruh siswa YPVDP yang berjumlah lebih dari 400 orang merupakan penerima MBG. Sebagian siswa mendapatkan makanan dari katering sekolah, sebagian membawa bekal, sementara lainnya menerima MBG.

“Dari 400-an siswa tidak semua dapat MBG. Ada yang katering sekolah, ada yang bekal, ada yang MBG. Ompreng datang sesuai data siswa yang menerima saja,” jelasnya.

Meski demikian, siswa maupun guru yang mengonsumsi makanan pada kejadian terbaru disebut mengalami keluhan dengan tingkat keparahan berbeda-beda.

Sebagian siswa yang mengalami muntah di sekolah langsung mendapatkan penanganan medis berupa injeksi dan obat. Setelah kondisi membaik, mereka diperbolehkan pulang.

“Ada yang muntah di sekolah, terus disuntik, dikasih obat, enakan boleh pulang,” katanya.

Sementara siswa dengan kondisi lebih berat harus menjalani perawatan di rumah sakit. Yeni menyebut di antaranya mengalami sesak dan sakit perut yang cukup parah.

“Yang inap itu yang sesak sama sakit banget perutnya,” ungkapnya.

Yeni juga meluruskan informasi yang berkembang di media sosial mengenai jumlah orang yang terdampak. Menurutnya, angka sekitar 30 orang yang ramai dibicarakan bukan menggambarkan seluruh orang yang mengalami keluhan, melainkan mereka yang membutuhkan perawatan lebih lanjut hingga rawat inap.

“Yang di IG kan pada komentar, kok yang makan semua tapi cuma 30-an yang terdampak. Itu 30-an yang rawat inap,” jelas Yeni.

Hingga Selasa (11/8) malam, sebanyak delapan pelajar masih menjalani perawatan di RS LNG Badak karena masih mengalami sejumlah keluhan.

Direktur Utama RS LNG Badak, dr Nurul Fathoni, mengatakan dari total pasien yang sebelumnya menjalani observasi dan perawatan, baru lima orang yang diperbolehkan pulang.

“Sampai saat ini yang sudah pulang lima orang. Sisanya masih ada keluhan, semoga besok sudah bisa pulang,” kata Nurul Fathoni, Selasa (11/8).

Kondisi pasien yang masih menjalani perawatan terus dipantau tim medis dan mendapatkan terapi sesuai keluhan yang dirasakan. Gejala yang dialami cukup beragam, mulai dari mual, muntah, sakit perut, pusing, sakit kepala hingga diare.

“Keluhannya kebanyakan mual, muntah, sakit perut, pusing, sakit kepala dan belakangan diare,” ujarnya.

Data rumah sakit mencatat pasien yang menjalani perawatan tidak seluruhnya merupakan anak karyawan perusahaan. Sebanyak lima pasien merupakan anak karyawan, sedangkan delapan lainnya berasal dari pihak nonkaryawan. (rom)