Guruh Soekarnoputra dalam Kenangan Emir: Seni, Politik, dan Persahabatan yang Membekas

Almarhum Guruh Soekarnoputra (bergaris) dan Emir Moise (hitam).

JURNALTODAY.CO, NASIONAL – Kepergian putra bungsu Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Soekarno, yakni Guruh Soekarnoputra, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta para koleganya.

Salah satu yang turut mengenang sosok Guruh adalah Emir Moeis. Ia mengaku telah mengenal Guruh sejak keduanya masih menempuh pendidikan di Perguruan Cikini (Percik), Jakarta.

Mengenal Guruh Sejak Sekolah Dasar

Emir Moeis mengungkapkan, perkenalannya dengan Guruh Soekarnoputra bermula ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, Emir berada di kelas 4, sedangkan Guruh masih duduk di kelas 1.

Meski terpaut usia sekitar tiga tahun dan berbeda tingkat kelas, pertemuan tersebut menjadi awal hubungan keduanya.

“Saya mengenal almarhum Mas Guruh sejak masih SD, kita satu sekolah di Perguruan Cikini. Cuma dia memang adik kelas saya, beda sekitar tiga tahunan. Karena beda umur, saya lebih banyak bermain dengan kakak-kakaknya,” kenang Emir.

Bacaan Lainnya

Kawan Seperjuangan

Hubungan keduanya kemudian kembali beririsan dalam perjalanan politik. Guruh dan Emir Moeis sama-sama bergabung dengan PDI Perjuangan pada rentang 1999 hingga 2000, ketika Indonesia memasuki fase awal Reformasi.

Pada masa tersebut, keduanya turut terlibat dalam dinamika politik nasional dan menyuarakan berbagai gagasan mengenai perubahan bangsa.

Emir menilai Guruh memiliki perhatian terhadap persoalan-persoalan konstitusional, termasuk pembahasan perubahan Undang-Undang Dasar 1945.

“Waktu itu almarhum cukup punya peran dan kerap bersuara dalam hal perubahan Undang-Undang Dasar, amandemen, dan sebagainya,” ujarnya.

Sosok yang Dekat dengan Seni dan Budaya

Di luar aktivitas politik, Emir juga mengenang Guruh sebagai sosok yang memiliki ketertarikan besar terhadap seni dan budaya daerah.

Menurutnya, setiap melakukan perjalanan ke berbagai daerah, Guruh kerap memberikan perhatian terhadap produk budaya, kerajinan tangan, hingga kesenian lokal.

“Dan kalau dalam perjalanan, yang unik dari Mas Guruh, nomor satu dia akan lihat hasil budaya, kemudian kesenian. Ke toko-toko barang-barang kesenian itu adalah selalu yang beliau kunjungi,” tutur Emir.

Kecintaan tersebut, kata Emir, menjadi salah satu karakter kuat yang melekat pada diri Guruh Soekarnoputra.

Emir juga mengaku mengagumi kemampuan Guruh dalam merumuskan gagasan, menyampaikan orasi, hingga menciptakan karya musik.

Salah satu karya terakhir Guruh yang masih diingatnya adalah lagu “Resopim”, yang berkaitan dengan gagasan Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional.

“Yang saya kagumi adalah kemampuannya membuat konsep-konsep orasi dan menciptakan lagu-lagu. Terakhir lagu ciptaannya yang saya dengar adalah Resopim (Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional). Beliau itu kader partai yang tulen, yang tidak perlu diragukan lagi,” tegasnya.

Kesan Terakhir Emir Moeis

Kepergian Guruh menjadi kehilangan tersendiri bagi Emir Moeis. Ia mengenang almarhum bukan hanya sebagai tokoh politik dan seniman, tetapi juga sebagai adik kelas yang telah dikenalnya sejak masa sekolah.

“Sedih juga kehilangan Mas Guruh, adik kelas yang kader partai tulen. Mari kita sama-sama mendoakan agar almarhum diberikan tempat yang lapang di sisi Allah SWT, diterima semua amal baiknya, serta diampuni segala kesalahan dan dosanya,” ucap Emir.

Emir berharap seluruh jasa dan pemikiran Guruh Soekarnoputra dapat terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia.

Selamat jalan, Guruh Soekarnoputra. Semoga jasa, karya, dan pengabdianmu sebagai salah satu putra bangsa senantiasa dikenang.(**)