Perempuan Dalam Himpitan Beban Stigma Peradaban

Sarinah Fransiska Pratiwi, kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).

JURNALTODAY.CO, OPINI – Kalau membayangkan kehidupan manusia ribuan tahun lalu, mungkin yang terlintas adalah gua, hutan, api unggun, dan manusia yang hidup berpindah-pindah. Namun, di balik perjalanan panjang manusia dari gua menuju kota, ada satu sosok yang sering luput dibicarakan: perempuan.

Bung Karno dalam bukunya yang berjudul Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, khususnya Bab III Dari Gua ke Kota, menggambarkan bagaimana perubahan cara hidup manusia turut mengubah posisi perempuan.

Dari kehidupan berburu, manusia kemudian mengenal pertanian. Dalam fase ini, perempuan justru memiliki peran besar sebagai pengelola pangan dan bagian penting dalam keberlangsungan kehidupan kelompok.

Perempuan sejak awal bukan sekadar “orang rumah”. Ia ikut menciptakan kehidupan.

Namun, ketika masyarakat berkembang dan sistem produksi berubah, posisi perempuan perlahan mengalami pergeseran. Laki-laki semakin dominan dalam kegiatan produksi, sementara perempuan semakin dekat dengan ruang domestik.

Perubahan yang disebut sebagai bagian dari perkembangan peradaban ternyata juga membawa konsekuensi: kemerdekaan perempuan ikut menyempit.

Bacaan Lainnya

Kemudian manusia bergerak dari desa menuju kota, dari pertanian menuju industri. Perempuan kembali memasuki ruang publik, bekerja dan berkontribusi dalam kehidupan ekonomi.

Tetapi muncul persoalan baru.

Perempuan keluar dari rumah, tetapi pekerjaan rumah tidak ikut keluar dari pundaknya. Ia bekerja di kantor, sekolah, perusahaan, organisasi, atau ruang publik lainnya. Namun setelah pulang, pekerjaan domestik tetap menunggu. Di sinilah perempuan menghadapi apa yang disebut sebagai beban ganda.

Dan bukankah hal itu masih terasa sampai hari ini?

Perempuan sekarang bisa menjadi pemimpin, pengusaha, aktivis, profesional, mahasiswa, bahkan membangun karier melalui ruang digital. Tetapi di tengah semua kemajuan itu, masih ada pertanyaan yang seharusnya kita kritisi: apakah perempuan benar-benar semakin merdeka, atau hanya semakin pandai menyembunyikan lelahnya?

Kalimat seperti “perempuan harus tahu tempatnya”, “perempuan kalau sudah menikah buat apa mengejar karier?” atau “urusan rumah memang tugas perempuan” mungkin terdengar biasa. Tetapi justru dari kalimat-kalimat sederhana itulah stigma dan batasan terhadap perempuan terus diwariskan.

Karena itu, kesetaraan bukan berarti perempuan harus menjadi seperti laki-laki. Kesetaraan berarti perempuan memiliki ruang yang sama untuk belajar, bekerja, bersuara, berkarya, dan menentukan hidupnya sendiri.

Di era Gen Z, mungkin sudah waktunya kita berhenti mengukur perempuan dari seberapa “patuh” ia terhadap peran tradisionalnya. Ukurlah dari seberapa luas kesempatan yang diberikan kepadanya untuk tumbuh, belajar, bekerja, bersuara, dan menentukan masa depannya sendiri.

Sebab perempuan hebat bukanlah perempuan yang sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Perempuan hebat adalah perempuan yang tidak lagi dipaksa mengerjakan semuanya sendirian.

Perjalanan manusia dari gua menuju kota adalah perjalanan tentang perubahan. Namun perubahan seharusnya tidak hanya membuat manusia semakin modern, tetapi juga semakin adil.

Sebab ketika perempuan diberi kebebasan untuk tumbuh, yang maju bukan hanya perempuan—tetapi seluruh peradaban.(*)

*Tulisan ini merupakan refleksi dan opini yang terinspirasi dari Bab III “Dari Gua ke Kota” dalam buku Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia karya Ir. Soekarno.