Lahan Tidur Samarinda Banyak, Produksi Pangan Masih Bergantung Daerah Lain

Ilustrasi

JURNALTODAY.CO, SAMARINDA – Ketahanan pangan Kota Samarinda dinilai masih sulit diperkuat jika lahan yang tersedia belum dimanfaatkan secara maksimal. Sejumlah kebutuhan pangan masyarakat hingga kini masih bergantung pada pasokan dari luar Kalimantan Timur.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Kamaruddin, mengatakan pemerintah kota perlu mulai serius menggarap lahan yang selama ini belum produktif. Menurutnya, lahan tersebut dapat diarahkan menjadi kawasan pertanian dan dikelola masyarakat.

“Banyak lahan tidur tapi tidak diproduktifkan. Seharusnya dibuat percetakan sawah dan dikelola masyarakat,” kata Kamaruddin, Jum’at (28/8/2026).

Ketergantungan terhadap daerah lain terlihat dari sejumlah komoditas yang masuk ke pasar Samarinda. Beras, bawang merah, bawang putih dan sebagian sayuran masih didatangkan dari luar daerah.

Untuk beras, pasokan antara lain berasal dari Jawa Timur, Jawa Barat, Indramayu hingga Sulawesi.

“Seperti sayur-mayur, bawang merah dan bawang putih, itu masih disuplai dari luar Kaltim. Beras juga begitu,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Kamaruddin menilai kondisi tersebut menunjukkan produksi pangan Samarinda belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri.

Meski begitu, tidak semua komoditas masih bergantung dari luar. Petani lokal sudah mampu menghasilkan beberapa jenis sayuran, seperti kangkung dan sawi, yang masih dapat memenuhi sebagian kebutuhan pasar.

“Samarinda belum bisa dijadikan ketahanan pangan, seperti beras. Tetapi kalau untuk sayur-mayur seperti kangkung, sawi dan sebagainya masih bisa tercukupi di sini,” jelasnya.

Menurut Kamaruddin, persoalan lahan menjadi salah satu pekerjaan yang harus segera dibenahi. Ia menyebut masih terdapat lahan yang berpotensi dikembangkan untuk pertanian, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal.

Ia juga mempertanyakan keberadaan sejumlah lahan yang justru digunakan untuk aktivitas tambang ilegal. Menurutnya, kawasan yang memenuhi syarat dapat diarahkan untuk kegiatan pertanian daripada dibiarkan tidak memberikan manfaat bagi ketahanan pangan.

Namun, pembukaan lahan saja dinilai tidak cukup. Pemerintah juga harus menyiapkan infrastruktur pertanian, terutama jaringan irigasi dan pengairan.

Kamaruddin mengatakan fasilitas pengairan yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum mampu menunjang pengembangan pertanian secara maksimal.

“Sampai sekarang belum muncul, baru wacana dan perencanaan belum berjalan. Harusnya ada saluran irigasi dan pengairan. Ada, tetapi sangat minim dan tidak maksimal,” katanya.

Karena itu, ia meminta Pemkot Samarinda tidak berhenti pada rencana. Pengembangan lahan pertanian harus disertai pembangunan sarana pendukung agar lahan yang dibuka benar-benar bisa menghasilkan.

Menurutnya, pengelolaan lahan produktif dapat menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan Samarinda terhadap pasokan pangan dari luar daerah sekaligus membuka sumber pendapatan bagi masyarakat.

Kamaruddin berharap pemerintah mulai memetakan lahan yang potensial, menyiapkan pengairan, kemudian melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya.

“Kita berharap itu dapat ditingkatkan secara bertahap, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Samarinda,” demikian Kamaruddin.(da/adv)