JURNALTODAY.CO, SAMARINDA – DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur menggelar peringatan Peristiwa Kerusuhan 27 Juli (Kudatuli), Minggu (26/7/2026) malam.
Diisi dengan acara teatrikal, peringatan peristiwa Kudatuli diharapkan menjadi momen refleksi untuk perjuangan demokrasi di Indonesia.
Sekretaris DPD PDI Perjuangan Kaltim, Ananda Emira Moeis mengatakan peristiwa Kudatuli tidak hanya identik dengan sejarah PDI Perjuangan, lebih dari itu, peristiwa Kudatuli menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan demokrasi di negeri ini.
“Kita saksikan sebuah momentum peristiwa yang kita tidak pernah lupa peristiwa Kudatuli ini. Peristiwa Kudatuli ini adalah cikal bakal lahirnya demokrasi di Indonesia. Dengan banyaknya korban jiwa, dengan banyaknya pertumpahan, kita harus betul-betul mengingat dan juga mewarisi api perjuangan,” ungkap Mbak Nanda.
Pun bagi PDI Perjuangan, khususnya, kata Ananda, peristiwa Kudatuli tidak akan pernah dilupakan, sebab selain menjadi rentetan sejarah berdirinya PDI Perjuangan, juga sebagai bentuk penghormatan bagi para pejuang demokrasi.
“Jangan sampai perjuangan dari pahlawan demokrasi yang sudah memberikan dan mengorbankan segalanya tidak kita jaga, tidak kita amankan. Itu adalah bentuk refleksi kita hari ini. Semoga kader-kader PDI Perjuangan tentunya selalu berani dan selalu berada di tengah-tengah rakyat untuk berani menyuarakan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat,” pesannya.
Dia menekankan pentingnya persatuan rakyat dengan kepemimpinan yang berpihak kepada masyarakat.
“Bahwa apabila kekuatan rakyat itu bergabung dengan kepemimpinan yang mempunyai jiwa kerakyatan, keberanian, dan ketulusan, akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar yang tidak akan bisa terkalahkan,” ujarnya.
Melalui potongan sejarah ini, Ananda menegaskan bahwa posisi partainya akan selalu berada di garis perjuangan rakyat.
“Jadi PDI Perjuangan selalu mengingat bahwa kita-kita itu adalah berada di tengah-tengah masyarakat. Kita harus selalu menangis dan tertawa bersama rakyat, dan harus selalu bisa berjuang untuk kesejahteraan,” lanjutnya.
Terkait kenangannya saat itu, kendati baru berusia lima tahun, Putri politisi senior PDI Perjuangan, Emir Moeis ini masih ingat betul bagaimana dukungan rakyat kepada Megawati Soekarnoputri pasca peristiwa Kudatuli.
“Kekuatan rakyat itu masif! Masif! Yang bersama-sama di belakangnya Ibu Megawati itu besar sekali,” tegasnya.
Ananda bercerita tentang suasana menjelang Pemilu pada awal dekade 1990-an yang menurutnya dipenuhi antusiasme masyarakat.
Pada tahun 1992, menurutnya, gerakan rakyat yang mendukung tampilnya Megawati Soekarnoputri di ibukota memang terlihat jelas. Aktivitas politik dalam kendali pemerintahan yang represif, justru semakin menyalakan militansi perlawanan.
“Sebelum 97 berarti 92 kan? 92. Itu memang gerakan rakyatnya tuh merah, Jakarta tuh merah memang. Saya tuh kalau pulang dari sekolah ke rumah ibu saya di Jakarta Selatan tuh lewat Taman Suropati, Bundaran HI, apa semua, merah semua!” sambungnya.
Di akhir, Ananda menegaskan bahwa sinergi antara rakyat dan pemimpin yang memiliki jiwa negarawan serta berpihak kepada masyarakat menjadi pelajaran penting dari Peristiwa Kudatuli.
“Kekuatan pergerakan rakyat dengan dikolaborasikan dengan pemimpin yang mempunyai jiwa negarawan, jiwa kerakyatan itu bisa membuahkan ya hari ini hasil yang manis. Lahirnya demokrasi di Indonesia kan cikal bakalnya dari peristiwa Kudatuli ini,” pungkasnya.(*)
