JURNALTODAY.CO, SAMARINDA – Rencana Pemerintah Kota Samarinda membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan dinilai menjadi langkah penting untuk mengatasi persoalan sampah yang kian meningkat di Kota Tepian.
Wakil Ketua DPRD Samarinda, Celni Pita Sari, mengatakan pembangunan PLTSa dapat menjadi solusi menyeluruh dalam penanganan sampah, sekaligus menghadirkan sumber energi alternatif dari limbah yang selama ini menumpuk di TPA.
“Kita menyambut baik rencana Pemkot karena persoalan TPA ini sudah menjadi momok besar bagi masyarakat,” kata Celni (17/5/2026).
Ia menyebut produksi sampah di Samarinda saat ini mencapai sekitar 600 ton per hari dan membuat kapasitas tempat pembuangan semakin terbatas.
Menurutnya, kondisi itu harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi krisis lingkungan yang lebih serius.
“Seperti TPA Bukit Pinang sekarang sudah tidak bisa digunakan lagi. Maka pemerintah memang harus menyiapkan solusi baru,” ujarnya.
Celni menilai pembangunan PLTSa di TPA Sambutan dapat menjadi jawaban atas persoalan kelebihan kapasitas sampah yang dihadapi Samarinda saat ini.
Namun, ia mengingatkan proyek tersebut membutuhkan perencanaan matang, terutama terkait kesiapan lahan dan pembiayaan di tengah kondisi efisiensi anggaran daerah.
“DPRD nanti akan kembali melakukan dengar pendapat dengan DLH Samarinda untuk mencari solusi terbaik. Karena pembangunan PLTSa membutuhkan biaya besar,” katanya.
Menurut Celni, realisasi proyek itu bisa dilakukan secara bertahap apabila kondisi keuangan daerah belum memungkinkan untuk dikerjakan sekaligus dalam waktu dekat.
Selain pembangunan PLTSa, ia juga meminta pemerintah memperkuat upaya pengurangan dan pengolahan sampah dari tingkat masyarakat, termasuk mendorong daur ulang limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Kalau PLTSa ini berjalan tentu sangat membantu mengatasi persoalan sampah. Karena kondisi sampah di Samarinda sekarang sudah cukup mengkhawatirkan,” tegasnya.
Ia menambahkan penggunaan plastik sekali pakai juga masih tinggi di tengah masyarakat meski sosialisasi pengurangan sampah plastik terus dilakukan pemerintah.
“Kita sebenarnya sudah mengimbau pengurangan penggunaan plastik, tapi masih banyak masyarakat yang menggunakan botol dan kemasan plastik sekali pakai,” tutup Celni Pita Sari.(da/adv)
