JURNALTODAY.CO, KUTAI KARTANEGARA – Pekikan “Kolaborasi!” menggema di Gedung BPU Kecamatan Kembang Janggut, Kamis, 1 Oktober 2026. Seruan yang dipimpin Fadila itu disambut penuh semangat oleh “Pasukan Pink”, para perempuan pejuang UMKM dari 11 desa di Kecamatan Kembang Janggut.
Mereka menjadi saksi penandatanganan komitmen bersama multipihak untuk mendukung pertumbuhan UMKM berdasarkan peran dan kapasitas masing-masing. Komitmen tersebut mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, koperasi, perbankan, dunia usaha, dan mitra pembangunan dalam satu agenda bersama untuk memperkuat produk unggulan desa.
Momentum itu berlangsung dalam Workshop One Village One Product (OVOP), yang menjadi puncak pendampingan Program PoweRRR oleh Solidaridad Indonesia bersama Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera. Program tersebut mendampingi perempuan petani, pekerja, dan pelaku usaha di 11 desa melalui pemetaan potensi, penguatan kelompok, penyusunan rencana bisnis, pengembangan kemasan, serta strategi pemasaran.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menyebut pekikan kolaborasi yang dipimpin Fadila sebagai salah satu oleh-oleh paling berharga dari kunjungannya ke Kembang Janggut.
Menurutnya, semangat para pelaku UMKM harus dijawab dengan perbaikan koordinasi di lingkungan pemerintah daerah. Ia mengakui bahwa program yang disusun masing-masing perangkat daerah masih sering berjalan sendiri dan belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan masyarakat.
“Pulang dari sini, kami akan mengumpulkan beberapa tim untuk memastikan program-program pemerintah tersalurkan secara efektif dan tepat sasaran. Kami malu kalau kalah dengan semangat pelaku UMKM di lapangan yang begitu besar untuk berkolaborasi,” kata Aulia.
OVOP Perlu Ditopang Industri Kecamatan
Dalam arahannya, Bupati menjelaskan bahwa pendekatan satu desa satu produk perlu terhubung dengan visi pembangunan Kukar Idaman Terbaik. Setiap desa perlu mengenali potensinya, menentukan produk prioritas, dan memperkuat kualitas serta pasarnya secara konsisten.
Namun, menurut Aulia, OVOP tidak boleh berhenti pada pengembangan produk skala rumah tangga. Pemerintah daerah juga perlu mendorong pendekatan One Sub District One Industry atau satu kecamatan satu industri agar kekuatan produk desa dapat berkembang menjadi kegiatan ekonomi berskala lebih besar dan memberi dampak terhadap Produk Domestik Regional Bruto.
Pendekatan tersebut diharapkan menghubungkan produk desa dengan rantai nilai yang lebih luas, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, standardisasi, pembiayaan, sampai pemasaran.
Data sementara Dinas Koperasi dan UKM Kukar mencatat sekitar 600 UMKM di Kecamatan Kembang Janggut. Potensinya tersebar dalam tiga rumpun besar, yakni kerajinan dan budaya, pangan dan kuliner, serta hasil budidaya dan usaha produktif masyarakat.
Pemetaan awal juga menemukan beragam produk seperti seraung, sulam tumpar, anjat, kerajinan bambu dan rotan, makanan olahan, kue, madu kelulut, serta produk hasil usaha rumah tangga lainnya. Tantangan berikutnya adalah menentukan produk prioritas, memperbaiki mutu dan kemasan, melengkapi legalitas, meningkatkan kapasitas produksi, serta membuka akses pasar dan pembiayaan.
Bupati Ajak KBS Mengawal Industri Berbasis Sawit
Bupati turut mengapresiasi kerja Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera dalam membangun kelembagaan ekonomi masyarakat dan mendampingi petani serta pelaku usaha lokal. Ia menyebut KBS sebagai salah satu koperasi terbaik di Kutai Kartanegara.
Aulia kemudian mengajak KBS mengambil peran dalam mengawal gagasan One District One Industry, khususnya pengembangan industri berbasis kelapa sawit di kawasan Sungai Belayan.
Menurutnya, kapasitas kelembagaan, basis anggota, dan pengalaman usaha yang dimiliki KBS menjadi modal penting untuk membangun industri yang lebih kuat. Ia menilai KBS memiliki kemampuan untuk merintis pembangunan pabrik kelapa sawit sendiri dan menyatakan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara siap mendukung rencana tersebut.
Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamaluddin, mengatakan kepedulian koperasi terhadap UMKM berangkat dari kesadaran bahwa koperasi dan pelaku usaha desa tumbuh dalam lingkungan ekonomi yang sama.
“Koperasi tidak dapat tumbuh kuat di tengah ekonomi masyarakat yang lemah. Ketika UMKM berkembang, pendapatan keluarga bertambah, peluang kerja terbuka, dan ekonomi desa menjadi lebih tahan. Karena itu, kemajuan UMKM merupakan bagian dari kemajuan koperasi dan masyarakat Kembang Janggut,” ujarnya.
KBS menyatakan siap mengambil peran sebagai pendamping, penghubung dengan pemerintah dan pasar, penguat jaringan antar-UMKM, serta mitra dalam pengembangan UMKM Center Kembang Janggut.
Solidaridad Dorong Kolaborasi Meluas ke Seluruh Kukar
Mewakili Country Manager Solidaridad Indonesia, Edy Hartono menyampaikan rasa hormat dan bangganya terhadap semangat masyarakat Kembang Janggut. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kartanegara atas dukungan terhadap program-program pemberdayaan petani dan kelompok perempuan Solidaridad di daerah tersebut.
Edy berharap kolaborasi yang telah terbentuk tidak berhenti setelah kegiatan yang ada, tetapi terus diperkuat dengan dukungan akses pembiayaan dan akses pasar, baik lokal, nasional, bahkan jika memungkin eksport, Melalui promosi ekspo yang ada serta diperluas ke kecamatan lain di Kutai Kartanegara.
Sebagai sebuah organisasi, Solidaridad Indonesia siap membersamai masyarakat untuk mewujudkan mimpi kedepan, dan tidak hanya di Kecamatan Kembang Janggut, tetapi juga menjangkau wilayah lain di kabupaten Kutai Kartanegara. Program ini menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam penguatan ekonomi keluarga, peningkatan kapasitas usaha, serta pembangunan rantai pasok yang lebih inklusif.
Dinas KUKM Siap Membawa Model Kembang Janggut ke Kecamatan Lain
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutai Kartanegara, Muhammad Reza, S.T., M.Si., turut mengapresiasi semangat para pelaku UMKM yang mengikuti rangkaian pendampingan dan workshop.
Ia mencermati paparan Fadila mengenai perjalanan pendampingan, persoalan yang dihadapi pelaku usaha, serta harapan perempuan UMKM di Kembang Janggut. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi pengembangan UMKM di kecamatan lain.
Muhammad Reza menyatakan akan membawa konsep kegiatan dan cerita kolaborasi Kembang Janggut ke kecamatan-kecamatan lain di Kutai Kartanegara. Pendekatan tersebut akan memperkuat fungsi Dinas KUKM sebagai penghubung antara data pelaku usaha, pembinaan, legalitas, peningkatan mutu, pemasaran, dan akses pembiayaan.
UMKM Center Menjadi Ruang Kerja Bersama
Salah satu tindak lanjut utama kegiatan adalah penguatan UMKM Center Kembang Janggut. Wadah ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat memajang produk, tetapi berfungsi sebagai pusat pendataan, konsultasi, kurasi produk, promosi, serta penghubung pelaku usaha dengan pasar dan pembiayaan.Setiap desa selanjutnya diarahkan menetapkan satu produk prioritas berdasarkan kekuatan bahan baku, kapasitas pelaku, peluang pengembangan, dan kejelasan pasar. Penetapan tersebut tidak membatasi desa yang memiliki banyak produk, tetapi membantu memfokuskan pendampingan agar hasilnya dapat diukur.
Dalam 90 hari setelah workshop, para pihak diharapkan memulai validasi data dan produk prioritas, memperbaiki mutu serta kemasan, melakukan uji pasar, dan membangun saluran penjualan. Hasilnya kemudian dievaluasi berdasarkan perkembangan omzet, pelanggan, kemampuan produksi, dan perluasan kerja sama.
Workshop ditutup dengan satu pesan yang tegas: keberhasilan OVOP tidak diukur dari banyaknya produk yang tampil di pameran, tetapi dari kemampuan produk desa memperoleh pembeli berulang, meningkatkan pendapatan pelaku usaha, dan menjaga nilai tambah tetap berada di masyarakat.
Pekikan “Kolaborasi!” dari Pasukan Pink kini telah dijawab dengan komitmen bersama. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan komitmen itu berubah menjadi program yang terhubung, pasar yang terbuka, serta pertumbuhan usaha yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat Kembang Janggut.(*)
