Sekolah Dasar di Bontang Digagas Jadi Simpul Ketahanan Pangan Keluarga

Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem. (Istimewa).

JURNALTODAY.CO, BONTANG – Sekolah dasar di Kota Bontang didorong tidak lagi hanya menjadi tempat belajar mengajar, tetapi juga berperan sebagai simpul penguatan ketahanan pangan keluarga.

Gagasan tersebut lahir melalui riset disertasi doktor Ahmad Aznem di Program Doktor Manajemen Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman yang menghasilkan model Integrated Food Security School-Based Management (IFS-SBM).

Penelitian itu berangkat dari implementasi Program Bessai Berinta (Bersama Atasi Stunting dan Inflasi dengan Bertani Terintegrasi) yang dijalankan Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3).

Program tersebut selama ini telah diterapkan di sejumlah sekolah dasar melalui gerakan Smart Tani Goes To School, namun pengelolaannya dinilai masih membutuhkan sistem manajemen yang lebih terstruktur.

Kepala DKP3 Kota Bontang, Ahmad Aznem, mengatakan hasil penelitian tersebut menjadi upaya memperkuat sinergi antara sektor pendidikan dan ketahanan pangan.

Menurutnya, sekolah memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi yang mampu menumbuhkan kebiasaan bertani sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga terhadap pentingnya konsumsi pangan bergizi.

Bacaan Lainnya

“Selama ini sekolah telah menjadi tempat menanamkan pengetahuan. Melalui model ini, sekolah juga dapat menjadi pusat pembelajaran praktik ketahanan pangan yang manfaatnya dirasakan langsung oleh keluarga siswa. Harapannya, budaya menanam dan mengonsumsi pangan sehat tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi berlanjut di rumah masing-masing,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).

Dalam penelitian tersebut dikembangkan model IFS-SBM yang terdiri atas enam komponen utama, yakni penyusunan visi dan tujuan program, pembentukan struktur organisasi yang jelas, integrasi program ke dalam dokumen perencanaan sekolah, pelaksanaan dan koordinasi lintas sektor, pemberdayaan orang tua serta masyarakat, hingga monitoring dan evaluasi berbasis data.

Model tersebut dikembangkan menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan tahapan studi pendahuluan, pengembangan model konseptual, validasi ahli, hingga uji coba lapangan.

Implementasinya dilakukan di tiga sekolah dasar yang mewakili karakter wilayah berbeda di Kota Bontang, yakni SDN 009 Bontang Utara, SDN 005 Berbas Pantai, dan SDN 002 Bontang Barat.

Hasil validasi menunjukkan model tersebut memperoleh tingkat kevalidan konten sebesar 92,8 persen, kevalidan konstruk 90 persen, serta tingkat kepraktisan operasional mencapai 91,7 persen.

Pada pelaksanaan di lapangan, model ini juga mendorong peningkatan kepemilikan tanaman pangan di pekarangan keluarga siswa hingga 18,5 poin persentase setelah program berjalan.

Meski demikian, penelitian juga mencatat bahwa peningkatan pengetahuan gizi dan ketahanan pangan rumah tangga belum menunjukkan perubahan signifikan secara statistik karena masa uji coba yang masih relatif singkat, yakni April hingga Juni 2026. Temuan itu menjadi dasar rekomendasi agar implementasi dilakukan dalam jangka waktu lebih panjang sehingga dampaknya dapat diukur secara lebih komprehensif.

Ahmad Aznem menilai hasil penelitian tersebut dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan ketahanan pangan berbasis sekolah.

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, orang tua, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci agar program pertanian sekolah tidak sekadar menjadi kegiatan penghijauan, tetapi benar-benar mampu mendukung upaya pencegahan stunting dan memperkuat ketahanan pangan keluarga.

“Harapan kami, model ini dapat menjadi pedoman bagi sekolah dalam mengelola program pertanian secara lebih sistematis, terukur, dan berkelanjutan. Ketika sekolah, keluarga, dan pemerintah bergerak bersama, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta didik, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah secara keseluruhan,” tutupnya.(ADV/Ir)