JURNALTODAY.CO, DISKOMINFO KALTIM — Malam itu, di beranda rumahnya di Desa Teratak, Kecamatan Muara Kaman, Pak Wahid (66) masih tampak sulit menyembunyikan rasa harunya.
Lelaki kelahiran 31 Desember 1958 itu berkali-kali mengucap syukur ketika mengenang kembali perjalanan tak terduga menuju Tanah Suci, sebuah perjalanan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi dalam hidupnya.
Selama 12 tahun menjadi marbot Masjid Darussalam, Pak Wahid mengabdikan tenaga dan waktunya untuk menjaga masjid kecil di desanya.
Dari menyapu halaman setiap pagi hingga memastikan pengeras suara selalu siap untuk azan, tugas itu ia jalani tanpa mengharap balasan besar.
Karena itu, ketika nama dirinya diumumkan sebagai penerima program umrah gratis dari Pemprov Kalimantan Timur, ia mengaku sempat terdiam.
“Kalau bukan dari pemerintah, mana mungkin saya bisa berangkat, Pak. Saya ini orang kecil,” ucapnya lirih saat ditemui.
Program umrah gratis bagi marbot merupakan kebijakan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji. Menurut Pak Wahid, ia bahkan tidak tahu kapan persisnya dirinya didaftarkan, karena proses pendaftaran dilakukan oleh pengurus masjid.
“Anak saya yang pengurus masjid bilang, ‘Bapak jangan kerja berat-berat, soalnya ada dari pemerintah mau umrohkan,’” kenangnya sambil tersenyum.
Sejak itulah ia tahu bahwa keberangkatannya telah diproses melalui Pemprov Kaltim. Bagi Pak Wahid, ini adalah pengalaman pertama kalinya menginjak Tanah Suci. Ia berangkat dari Jakarta pada hari Kamis dan tiba di Jeddah pada malam Jumat.
“Begitu sampai Jeddah langsung menuju Makkah. Taruh tas sebentar di hotel, habis itu langsung tawaf sampai jam tiga lewat, bareng Pak Idul,” tuturnya.
Meski melelahkan, ia mengaku perjalanan itu penuh makna dan terasa ringan. Sepanjang ibadah, kesehatannya terjaga. “Alhamdulillah sehat. Semua lancar,” katanya.
Pak Wahid mengaku tak pernah membayangkan dapat berangkat umrah. Karena itu ia menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Pemprov Kaltim, khususnya Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.
“Saya bersyukur betul sama Pak Gubernur. Kalau tidak beliau kumpulkan kami para marbot, saya belum ada bayangan bisa ke sana.”
Tak hanya untuk dirinya, Pak Wahid juga berharap program umrah gratis ini dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
“Mudah-mudahan nanti anak-anak saya juga bisa ikut dianu (dapat kesempatan). Programnya semoga diteruskan,” ucapnya penuh harap.
Bagi Pak Wahid, perjalanan umrah ini bukan sekadar hadiah. Ia memaknainya sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian para marbot yang selama ini bekerja sunyi menjaga rumah ibadah.
“Saya tambah bersyukur. Saya ini orang kecil, tapi Allah kirim jalan lewat pemerintah,” katanya.
Program umrah gratis yang digagas Pemprov Kaltim menjadi jembatan spiritual bagi warga seperti Pak Wahid yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri dalam diam, untuk merasakan pengalaman religius yang mungkin tak pernah terwujud tanpa bantuan pemerintah.
Dan malam itu, sebelum wawancara ditutup, ia kembali mengucap syukur. “Alhamdulillah… bersyukur betul.”pungkasnya. (HYI/Adv/DiskominfoKaltim)
