JURNALTODAY.CO, BONTANG – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang menggelar Focus Group Discussion (FGD) Ketahanan Pangan Masuk Sekolah di Balai Benih Ikan Tanjung Laut Indah, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 140 peserta yang merupakan perwakilan sekolah dasar dari seluruh wilayah Kota Bontang.
Kepala DKP3 Bontang, Ahmad Aznem, mengatakan program ketahanan pangan berbasis sekolah menjadi salah satu upaya strategis untuk membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kemandirian pangan sekaligus mendukung perbaikan gizi anak sejak dini.
Dalam kegiatan tersebut, para kepala sekolah perwakilan dari tiga SD di tiga kecamatan mempresentasikan berbagai kegiatan dan kesiapan sekolah dalam mendukung program ketahanan pangan.
Forum itu juga menjadi wadah berbagi pengalaman, gagasan, serta penyusunan langkah bersama agar program dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Ahmad Aznem menjelaskan, Kota Bontang saat ini menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga komoditas hortikultura yang berdampak pada daya beli masyarakat serta masih adanya risiko stunting pada kelompok keluarga tertentu.
Karena itu, sekolah dinilai memiliki peran penting sebagai pusat literasi dan produksi pangan melalui pemanfaatan lahan dan teknologi pertanian modern.
“Ketahanan pangan masuk sekolah bukan hanya soal menanam dan memanen, tetapi bagaimana membangun budaya baru yang melahirkan generasi mandiri pangan. Program ini juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi keluarga, membantu penurunan stunting, serta mengoptimalkan aset sekolah,” ujarnya.
Program tersebut dirancang melalui skema Smartani berbasis Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang terdiri dari empat tahapan utama, yakni fase inisiasi dan kolaborasi, implementasi, pemeliharaan dan monitoring, serta panen dan keberlanjutan.
Pada tahap awal, sekolah akan mendapatkan sosialisasi, pendampingan, serta dukungan kemitraan lintas sektor yang melibatkan Dinas Pendidikan, DKP3, puskesmas, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT). Selain itu, dukungan tenaga penyuluh pertanian dan pembiayaan awal juga disiapkan untuk memperkuat pelaksanaan program.
Tahap implementasi akan difokuskan pada pengelolaan sampah organik menjadi kompos, optimalisasi lahan sekolah melalui berbagai metode pertanian modern seperti hidroponik dan bioflok, serta penanaman komoditas hortikultura bergizi tinggi yang dipadukan dengan budidaya perikanan.
Selanjutnya, pada fase pemeliharaan dan monitoring, siswa akan dilibatkan secara aktif melalui program kader “Smartani Cilik” yang bertugas melakukan pemantauan harian terhadap kebun dan kolam sekolah. Selain menanamkan kedisiplinan dan tanggung jawab, kegiatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kemampuan belajar siswa melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik.
Sementara itu, hasil panen nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan untuk kantin sehat sekolah. Sistem tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus pangan yang berkelanjutan, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi siswa mengenai proses produksi pangan dari hulu hingga hilir.
Menurut dirinya, program ini tidak hanya memiliki nilai edukatif, tetapi juga rekreatif, inspiratif, informatif, dan inovatif. Kebun sekolah dapat menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus laboratorium hidup bagi siswa dan guru dalam memahami pertanian, lingkungan, serta pentingnya menjaga ketahanan pangan daerah.
“Harapannya sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar di dalam kelas, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter, peningkatan gizi, dan penguatan ketahanan pangan yang manfaatnya bisa dirasakan hingga lingkungan keluarga,” tutupnya.(ADV/Ir)
