JURNALTODAY.CO, DISKOMINFO KALTIM – Bagi Wahyu Wiranto, seorang marbot Masjid Jami Asalam di Kecamatan Loa Kulu, perjalanan ke Tanah Suci bukanlah mimpi yang berani ia bayangkan.
Kesibukannya menjaga rumah ibadah, ditambah kondisi ekonomi yang serba pas-pasan, membuat ibadah umrah terasa begitu jauh dari jangkauan.
Namun tahun ini, takdir berkata lain. Wahyu menjadi salah satu penerima program umrah gratis dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui kebijakan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wakil Gubernur Seno Aji.
Wahyu masih mengingat hari ketika kabar itu pertama kali ia dengar. Bukan dari pengumuman resmi, bukan pula dari pamflet atau sosial media, melainkan dari obrolan ringan bersama teman-temannya.
“Awalnya cuma dengar dari teman-teman. Katanya ada janji program umrah untuk marbot. Baru kami sampaikan ke pengurus masjid, diskusi, dan ternyata ditindaklanjuti,” kenangnya.
Ia mengaku proses administrasi tidak serumit yang ia bayangkan. Sebagian besar verifikasi dilakukan melalui Kementerian Agama, termasuk pengecekan Surat Keputusan (SK) kepengurusan masjid. Seleksi pun dilakukan berdasarkan lama pengabdian.
“Alhamdulillah kami lolos semua. Di lingkungan kami memang marbot-marbothya sudah lama mengabdi. Saya sendiri sudah bertahun-tahun,” ungkapnya.
Ketika namanya dinyatakan berangkat, Wahyu sempat tak percaya. Selama ini, menginjakkan kaki di Tanah Suci hanyalah angan.
“Secara ekonomi, nggak kepikiran sama sekali bisa umrah. Yang nggak punya uang, mana mungkin terpikir sampai ke sana. Makanya waktu diberi kesempatan ini, saya kaget… syukur banget,” tuturnya dengan mata berbinar.
Saat tiba di Mekah, Wahyu merasakan pengalaman yang bertolak belakang dari apa yang selama ini ia hanya baca di buku atau dengar dari cerita orang.
“Baca-baca sih bisa. Tapi ketika melihat langsung… Masyaallah, luar biasa,” katanya.
Ada satu catatan kecil yang ia sampaikan sebagai evaluasi: rombongan mereka langsung menuju Mekah tanpa singgah dulu ke Madinah. “Kasihan juga yang sudah tua-tua. Baru turun pesawat sudah langsung perjalanan jauh. Banyak yang akhirnya di hotel saja,” ujarnya.
Meski begitu, seluruh perjalanan tetap menjadi kenangan indah. Bukan hanya ibadah umrah, rombongan juga diajak mengunjungi berbagai lokasi bersejarah yang selama ini hanya ia ketahui dari ceramah.
“Saya kira cuma umrah dan ke Madinah. Ternyata diajak ke tempat-tempat bersejarah juga. Semuanya gratis. Bahkan biaya paspor pun diganti,” katanya sambil tersenyum.
“Ini Hadiah, Bukan Bantuan Biasa” tambahnya.
Bagi Wahyu, perjalanan umrah ini lebih dari sekadar program pemerintah. Ia menyebutnya sebagai “hadiah”,bsesuatu yang tidak bisa ia ukur dengan kata-kata.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Pemprov Kaltim, terutama Pak Rudy Mas’ud dan Pak Seno Aji. Hadiah ini luar biasa. Semoga jadi amal jariah bagi beliau-beliau yang sudah memudahkan orang seperti kami untuk bisa ibadah,” ucapnya haru.
Baginya, kesempatan ini bukan hanya keberangkatan spiritual, tetapi pengakuan atas dedikasi marbot—para penjaga masjid yang selama ini bekerja dalam sunyi.
“Orang-orang di sini bilang, hadiah seperti ini tidak bisa dibalas dengan kata-kata. Kami cuma bisa mendoakan,” pungkasuya. (HYI/Adv/Diskominfokaltim)
