JURNALTODAY.CO, OPINI – Samarinda selalu punya cara unik untuk menyembunyikan rahasianya. Di balik hiruk-pikuk kota yang kini dipenuhi pusat perbelanjaan, terselip satu nama yang tak bisa dihapus dari ingatan kolektif warga: Gedung Nasional.
Namun, pencarian jejak ini sebenarnya dimulai dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar bangunan—ini adalah pencarian tentang gema suara yang pernah menyatukan Indonesia dari tepian Sungai Mahakam.
Sang Pemersatu di Tanah Kutai
Bayangkan suasana tahun 1950. Indonesia masih seumur jagung, dan integrasi bangsa adalah prioritas utama. Bung Karno datang ke Samarinda bukan untuk sekadar pesiar. Beliau datang dengan misi besar: meyakinkan rakyat Kalimantan Timur bahwa masa depan mereka ada dalam dekapan Republik.
Saat itu, dermaga Mahakam menjadi pintu gerbang. Sorak-sorai rakyat pecah saat sosok dengan peci hitam dan tongkat komando itu melangkah turun dari kapal. Di sinilah letak magisnya: Soekarno tidak hanya membawa raga, tapi membawa gagasan besar tentang sebuah bangsa yang utuh dari Sabang sampai Merauke.
Gedung Nasional: Podium Peradaban
Langkah pencarian ini bermuara di sebuah titik di Jalan Jenderal Sudirman. Gedung Nasional. Bangunan ini adalah “saksi kunci”. Di sanalah Bung Karno berdiri di balik podium, menatap ribuan pasang mata rakyat Samarinda.
Dalam pidatonya, beliau tidak menggunakan bahasa yang rumit. Beliau bicara tentang martabat, tentang bagaimana rakyat Samarinda adalah pilar penting bagi kedaulatan Indonesia. Gedung Nasional bukan sekadar semen dan bata; ia adalah saksi bisu saat Samarinda secara emosional “mengunci” janji setianya kepada Ibu Pertiwi. Gema suaranya di gedung itu seolah menetap di antara sela-sela pilar bangunan hingga hari ini.
Wajah Baru: Sejarah yang Berdenyut Kembali
Sempat ada masa di mana Gedung Nasional terasa sunyi, seolah terlupakan oleh zaman. Namun, ada babak baru yang menarik di sini. Kini, gedung bersejarah ini tidak lagi dibiarkan kaku sebagai monumen mati. Melalui pengelolaan pihak swasta, ia bertransformasi menjadi ruang publik (public space) yang segar.
Mengapa Ini Penting bagi Kita?
Melihat Gedung Nasional hari ini adalah cara kita menghargai sejarah tanpa harus terjebak dalam romantisme masa lalu yang membosankan. Kita diingatkan bahwa tempat di mana Bung Karno dulu menyatukan bangsa melalui kata-kata, kini tetap menjadi tempat “penyatuan” melalui interaksi sosial dan kreativitas.
Gedung Nasional telah berhasil keluar dari kutukan “gedung tua yang angker” menjadi pusat gravitasi baru di Samarinda. Ia membuktikan bahwa sejarah bisa hidup berdampingan dengan gaya hidup modern, selama kita tahu cara merawat ceritanya.(*)
Penulis: Abdurrachman Wahid akrab disapa Achonk. Warga Kota Samarinda, sekaligus kader PDI Perjuangan.
