JURNALTODAY.CO, BONTANG – Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Bontang memastikan bahwa anggaran pengadaan susu untuk ibu hamil serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita stunting yang sebelumnya diusulkan tahun ini resmi dibatalkan.
Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi internal menunjukkan adanya potensi tumpang tindih dengan program bantuan pusat maupun provinsi, khususnya skema Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Diskes Bontang, Bahtiar Mabe, menyampaikan bahwa langkah pembatalan dianggap perlu untuk menghindari temuan, mengingat program MBG juga mengalokasikan bantuan serupa.
“Iya, anggarannya ada. Tapi setelah kami evaluasi, itu berpotensi tumpang tindih dengan program MBG. Jadi kami putuskan tidak jadi membeli. Anggarannya kembali, sekitar Rp 1,5 miliar menjadi SILPA positif,” jelas Bahtiar.
Menurutnya, ketelitian dalam penganggaran menjadi prioritas agar tidak terjadi pembiayaan ganda antara program daerah dan program pemerintah pusat.
“Kami harus jelas membiayai apa, MBG membiayai apa. Jangan sampai dobel. Termasuk kemungkinan ada bantuan susu dari jalur itu,” tambahnya.
Meski pengadaan susu dibatalkan, Diskes memastikan bahwa upaya pencegahan stunting tetap berjalan, terutama melalui layanan penyuluhan gizi di Puskesmas dan Posyandu. Bahtiar menegaskan bahwa edukasi gizi merupakan dasar penting untuk menurunkan risiko stunting mulai dari masa kehamilan.
“Penyuluhan tetap jalan. Kami tekankan ibu hamil memahami gizi seimbang, itu yang utama. Tidak semua solusi harus dalam bentuk barang. Edukasi yang benar jauh lebih penting,” ujarnya.
Sebelumnya, Diskes telah menyalurkan susu bagi balita stunting sejak 24 Juli lalu melalui Bantuan Keuangan (Bankeu) Pemprov Kaltim senilai Rp 800 juta. Bantuan tersebut menyasar bayi di bawah usia satu tahun.
“Distribusinya dibarengi pemberian makanan tambahan (PMT). Sekitar seratusan bayi sudah menerima. Takaran susunya mengikuti rekomendasi dokter,” terang Kabid Kesmas, Bambang Sri Mulyono.
Untuk balita di atas satu tahun, bantuan susu semula direncanakan melalui APBD Perubahan. Namun rencana tersebut juga dihentikan sehingga anggarannya, sekitar Rp 900 juta, turut menjadi SILPA.
Sementara itu, angka stunting di Kota Bontang menunjukkan tren positif. Berdasarkan hasil Operasi Timbang Jilid II, prevalensi stunting turun menjadi 15,6 persen dari sebelumnya 17,4 persen. Operasi timbang yang menyasar 9.769 balita ini mencatat cakupan 100 persen. Data lengkap per kelurahan akan dipaparkan dalam rapat koordinasi pada awal bulan mendatang. (Adv/Arf)
