Pemkot Bontang Gelar Apel Kesiapsiagaan dan Simulasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2025 di Beras Basah

Apel Kesiapsiagaan dan Simulasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2025 di Pulau Beras Basah, Kota Bontang.

JURNALTODAY.CO, BONTANG — Pemerintah Kota Bontang menggelar Apel Kesiapsiagaan dan Simulasi Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi 2025 di Pulau Beras Basah. Kegiatan lintas sektor tersebut dimulai sejak kemarin dan berlanjut hingga hari ini, Jumat (14/11/2025).

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan kegiatan ini bertujuan memperkuat koordinasi seluruh elemen daerah dalam menghadapi potensi bencana menjelang puncak musim hujan. Ia menegaskan simulasi tersebut menjadi bagian penting dari konsolidasi kekuatan daerah dalam penanggulangan bencana.

“Tujuan utamanya melatih kemampuan tanggap cepat dan memastikan penanganan bencana berjalan terkoordinasi. Ini juga bagian dari kewajiban pemerintah daerah dalam layanan dasar penanggulangan bencana,” ujar Agus.

Agus menjelaskan bahwa kegiatan ini mengacu pada UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Permendagri 101/2018 terkait Standar Pelayanan Minimal (SPM) Suburusan Bencana. Ia menekankan bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar dalam penyediaan layanan pencegahan, kesiapsiagaan, dan evakuasi sesuai indikator Indeks Ketahanan Daerah (IKD).

Dalam kesempatan itu, Agus juga menyoroti persoalan banjir yang masih terjadi di sejumlah wilayah Bontang. Pemerintah, katanya, sedang menyiapkan langkah-langkah struktural seperti pengadaan lahan folder pengendali banjir, pembangunan pintu air, kolam retensi, hingga perbaikan infrastruktur penahan banjir rob.

“Upaya ini diharapkan dapat menekan risiko banjir secara berkelanjutan,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Selain risiko hidrometeorologi, Agus menyebut Bontang juga menghadapi potensi kegagalan teknologi sebagai kota industri, mulai dari kebocoran amonia, kebakaran, hingga pencemaran limbah. Karena itu, pelatihan darurat atau emergency drill perlu dilakukan secara rutin dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

“Untuk mewujudkan visi itu, kita memerlukan SDM yang tangguh dan lingkungan yang aman,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Bontang AKBP Widho Andriano menegaskan bahwa soliditas seluruh unsur menjadi kunci memperkuat ketangguhan daerah. Ia menyampaikan bahwa Indonesia masih berada pada tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Berdasarkan data BNPB, lebih dari 2.700 kejadian bencana tercatat hingga awal November 2025, dengan banjir sebagai peristiwa paling dominan.

“Kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Potensi bencana di Kaltim mulai dari banjir, cuaca ekstrem, abrasi, karhutla, hingga kegagalan teknologi, sehingga koordinasi menjadi mutlak,” ujar Widho (adv/arf)