JURNALTODAY.CO, SAMARINDA – Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim), Nidya Listiyono, menilai peringatan Hari Pers Nasional (HPN) pada 9 Februari 2026 menjadi momentum penting bagi insan pers untuk tidak hanya menjaga kebebasan dan integritas jurnalistik, tetapi juga beradaptasi dengan perubahan perilaku pembaca, khususnya generasi Z (Gen Z).
Menurut Nidya, secara nasional kebebasan pers Indonesia berada dalam kondisi yang relatif baik.
Namun, tantangan utama pers ke depan bukan lagi soal kebebasan semata, melainkan kemampuan media menyesuaikan diri dengan ekosistem digital yang cepat dan pola konsumsi informasi generasi muda.
“Kebebasan pers sudah cukup terjaga. Tantangan sekarang adalah bagaimana pers tetap relevan, bertanggung jawab, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, termasuk menghadapi karakter pembaca Gen Z,” ujar Nidya, Selasa, (27/1/2026).
Ia menjelaskan, Gen Z memiliki kecenderungan menyukai informasi yang singkat, visual, langsung ke pokok persoalan, serta mudah diakses melalui platform digital.
Hal ini menuntut media untuk berinovasi tanpa mengorbankan prinsip dasar jurnalistik.
“Gen Z tidak lagi suka berita yang terlalu panjang dan bertele-tele. Tapi itu tidak berarti kualitas boleh turun. Justru tantangannya bagaimana menyajikan berita yang ringkas, cepat, namun tetap akurat dan faktual,” tuturnya.
Dalam konteks tersebut, Nidya mengapresiasi langkah JMSI Kaltim yang telah lebih dulu memperkuat kapasitas wartawan melalui Retreat JMSI Kaltim pada 21-22 Januari 2025 di Samboja yang diikuti 25 wartawan lintas daerah dengan asupan materi yang sesuai di situasi saat ini, termasuk pembekalan sertifikasi dan penguatan etika jurnalistik.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) wartawan menjadi kunci agar pers mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan preferensi audiens muda.
“Legalitas, kualitas, dan integritas harus berjalan bersamaan. Wartawan harus dibekali pengetahuan, sertifikasi, dan pemahaman etika agar setiap produk jurnalistik bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.
Nidya menegaskan HPN seharusnya tidak hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi refleksi bagi insan pers untuk membaca perubahan zaman.
Digitalisasi, menurutnya, bukan ancaman, melainkan peluang bagi media untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kepercayaan publik.
“Sekarang media tidak hanya bersaing soal siapa paling cepat, tapi siapa yang paling dipercaya. Ini penting, terutama bagi Gen Z yang sangat kritis terhadap informasi,” ujarnya.
Dalam konteks daerah, Nidya berharap JMSI Kaltim mampu membawah arah dunia pers yang adaptif sekaligus berintegritas.
Pers daerah dinilai memiliki peran strategis dalam menyampaikan isu-isu publik, mulai dari pembangunan, pelayanan masyarakat, hingga kebijakan pemerintah, dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda.
“Media daerah harus bisa menjadi jembatan informasi, bukan hanya untuk pembaca lama, tapi juga generasi muda yang akan menjadi penentu masa depan,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Nidya menilai kondisi pers di Kaltim saat ini berada pada jalur yang positif.
Ia optimistis pers Kaltim mampu menjawab tantangan era digital dan perubahan perilaku Gen Z, asalkan tetap berpegang pada prinsip jurnalistik.
“Pers Kaltim sudah baik. Tinggal bagaimana kita terus beradaptasi, menjaga etika, dan menjadi media yang faktual, terpercaya, serta relevan bagi generasi hari ini dan masa depan,” pungkasnya.(*)
